Select Menu
«

Terbaru

Posting Lebih Baru

»
Anterior
Posting Lama

Ilustrasi Sumber: http://www.vemale.com/ • Mediamuallaf.com
Di suatu pagi yang sejuk, bos kantor datang lebih awal, bahkan lebih cepat dari office boy. Perut bos itu sudah mulai buncit (maklum kurang olahraga). Karena datang terlalu pagi, lift kantor masih belum beroperasi. Dia memutuskan naik tangga sambil berharap perut buncitnya berkurang.

Padahal kantornya di lantai tiga puluh, "Loh, ah tak apa sesekali, nanti sampai atas aku selfi kirim ke istri" gumamnya. Satu, dua, tiga, empat lantai dilewati. Napas mulai memburu tetapi dia terus bersemangat. Dengan susah payah, akhirnya sampai juga dia dilantai tiga puluh. Ya, lantai tiga puluh, peluh bercucuran, tapi dia puas, nafas tersengal-sengal, tapi dia bangga. "Pagi ini aku taklukan puncak everest" teriaknya, dia lalu meraba saku celana, mengambil kunci. "Ya Allah, kunci kantor ternyata tertinggal di mobil yang diparkir di lantai dasar", sementara dia mulai kebelit ingin ke kamar kecil pula.

Demikianlah pula ketika seseorang tak punya "kunci" hendak masuk surga.Ternyata kunci amalan kebaikkannya tertinggal di dunia. Ya bila seseorang tak ikhlas dalam amalannya niscaya nilainya pun hanya "nol besar".

Rasulullah SAW berkata, "Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya". (Hr.Bukhari - Muslim)

Bayangkan betapa sedihnya kita ketika segala amalan kebaikkan yang kita lakukan di dunia ternyata nilainya nol di hadapan Allah SWT. Betapa ruginya manusia, ketika surga telah dipertontonkan didepan mata, lalu kuncinya tertinggal karena amal kebaikannya, ternyata karena alasan duniawi. Ibnul Qayyim berkata "Amal tanpa ikhlas bagaikan musafir yang memenuhi kantong - kantongnya dengan pasir, dibawanya dalam keadaan berat, namun tak memberi manfaat apapun".

Karena itu pula manusia selalu digoda syaitan untuk berlaku riya. Boleh dikatakan musuh utama ikhlas adalah riya. Ulama mengatakan riya ada dua jenis. Pertama hukumnya syirik akbar hal ini terjadi jika seseorang melakukan seluruh amalnya agar dilihat manusia. Itulah riya yang dilakukan oleh orang - orang munafik.

Allah SWT berfirman "Sesungguhnya orang - orang munafik itu menipu Allah dan Alllah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali". (An-Nisa : 142)

Adapun yang kedua adalah riya yang terkadang menimpa orang yang beriman. Sikap riya ini muncul dalam sebagian amal. Seseorang beramal kepada Allah dan juga diniatkan untuk selain Allah. Penyakit riya dapat menjangkit siapa saja, bahkan seorang yang alim sekalipun. Rasulullah SAW bersabda "Sesuatu yang aku khawatirkan menimpa kalian adalah perbuatan syirik asghar" ketika Rasulullah SAW ditanyak tentang maksudnya beliau menjawab "Contohnya adalah riya".

Dalam hadist lain. Rasullah SAW berkata "Maukah kalian ku beritahu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian dari pada (fitnah) dajjal", para sahabat berkata "Tentu saja". Beliau SAW bersabda "Syirik khafi (yang tersembunyi) yaitu ketika seseorang berdiri mengerjalakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya".

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa riya termasuk syirik kahfi yang samar dan tersembunyi. Hal ini karena riya terkait dengan niat dan termasuk amalan hati yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Tidak ada seorangpun yang mengetahui niat dan maksud seseorang kecuali Allah SWT semata.
                
Mengingat sedemikian pentingnya menjauh diri dari riya agar ikhlas tetap terjaga maka Rasulullah mengajarkan sebuah doa untuk melindungi dari syirik besar mupun syirik kecil itu. Rasulullah SAW bersabda "Wahai sekalian manusia, jauhillah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut". Seorang sahabat bertanya "Ya Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhinya dosa syirik, sementara ia lebih samar dari pada rayapan seekor semut?". dtw (Sumber Harian Orbit)

Sekilas Tentang Media Muallaf

Media Muallaf Merupakan Media Online Adalah Satu-Satunya Pusat Pendidikan Muallaf Yang Menyuguhkan Informasi Secara Aktual dan Fakta Kepada Seluruh Khalayak Umum, Informasi Dari Berbagai Sumber Terpercaya Khusus Kami Sajikan Untuk Anda Dimanapun Saat Ini Anda Berada.
«

Terbaru

Posting Lebih Baru

»
Anterior
Posting Lama