![]() |
| Ilustrasi Sumber: https://www.google.com/. • Mediamuallaf.com |
Oleh : Robie Fanreza
Allah memberikan informasi "Dan ingatlah juga takkala Tuhan-Mu memaklumkannya", "Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku. Maka sesungguhnya azab-Ku, sangat pedih" (Qs. Ibrahim: 7).Ini menunjukkan bahwa nikmat Allah itu ada bahkan sangat banyak. Hal ini berkaitan dengan firman Allah dalam alqur'an surat Al-Kautsar, ayat yang pertama "Sesungguhnya Nikmat Allah Sangat Banyak, shalat dan bekorbanlah" Ayat menegaskan kalau nikmat Allah benar-benar banyak.
Jika mencoba menghitung nikmat Allah manusia tidak pernah mampu bahkan untuk sekedar menuliskannya juga tidak akan pernah sanggup. Meskipun kita mencoba mengumpulkan ranting sebagai pena, air yang ada dipermukaan bumi dan langit sebagai tempat menuliskan nikmat Allah, jangan bertanya kepada Allah berapa nikmat yang diberikan kepada manusia. Tetapi tanya dalam diri seseorang muslim berapa pengorbanan yang kita berikan kepada Allah
Dan Allah masih memberikan nikmat dan maha kasih kepada hambanya yang beriman dan tidak beriman. Dalam hal ini allah tidak tebang pilih, nikmat dan kasih Allah itu laksanakan matahari yang senantiasa menyinari bumi. Matahari ketika bersinar ke bumi juga tidak memandang warna kulit, bahasa, agama.
Begitu besar kasih Allah kepada setiap hambanya. Dengan banyak nikmat yang diberikan kepada hamba hendaknya hamba bersyukur akan nikmat tersebut. Rasa syukur diucapkan dengan lisan dengan hamdalah, dibenarkan dalam hati kalau nikmat berasal dari Allah dan diaktualisasikan nikmat dalam kehidupan pribadi dalam berbagi kebahagiaan kepada orang lain.
Komaruddin Hidayat mengajukan sebuah pertanyaan kepada kita dalam bukunya psikologi agama. Kapan hidup anda merasa bahagia, menurutnya adalah saat kita mampu berbagi, menolong dan memberikan sesuatu kepada orang lain apa yang dimiliki.
Kebahagiaan memberi itu lebih tinggi tingkatannya dibanding dari pada penerima. Misal, saya sangat senang bila diberi hadiah dari seseorang, saat saya sedang tasyakuran usia. Namun berbeda kebahagiaan saya waktu dapat memberikan hadiah kepada orang, yang mana membuat kita bahagia, dipastikan waktu kita dapat memberi.
Komarudin Hidayat menambahkan jika ingin hidup bahagia dan tentram jiwa harus menjadi pribadi yang berlimpah "giving dan serving orientied personality" Seorang ayah akan senang memberikan kebahagiaan kepada keluarganya dan tanpa pamrih, seorang ibu juga akan bahagia memberikan sesuatu kepada anak. Aplikasi syukur ini yang juga dinyatakan oleh Quraish Shihab dalam tafsirnya rasa syukur itu adalah saat memiliki kemampuan dalam bentuk harta, hartanya bermanfaat kepada muslim yang lain.
Jika harta dapat bermanfaat kepada orang lain itu pribadi yang bersyukur, niscaya Allah akan menambah nikmat kepada orang yang mau bersyukur dari rezeki yang tanpa kita duga arah datangnya. Namun jika harta itu senantiasa dikumpulkan dan tidak disalurkan hal ini mendapat murka dari Allah.
Karena ada juga manusia hidupnya hanya mengumpul harta kemudian dihitung-hitung Allah memberikan informasi dalam surat Al-Humazah ayat satu sampai delapan "Kecelakaan besarlah bagi setiap pengupat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali, sesungguhnya dia benar-benar dilempar kedalam humazah dan tahukah kamu apakah humazah itu, api yang disediakan Allah yang dinyalakan, yang membakar sampai kehati".
Dengan rasional yang dimiliki manusia, terkadang terpikir semakin banyak memberi bantuan kepada orang lain semakin mengurangi apa yang kita miliki. Tetapi berbeda dengan keimanan dan keyakinan kita kepada Allah sang pemberi nikmat, maka justru semakin banyak yang diberikan justru semakin bertambah apa yang kita miliki. Satu yang kita keluarkan atau diberikan maka dua atau lebih yang akan kita dapatkan. Allah yang memberikan nikmat, maka Allah lebih mengetahui apa yang terbaik kepada hambanya.
Ali bin Abi Thalib ketika melaksanakan ibadah puasa bersama seluruh keluarganya dan dengan keterbatasan harta yang dimilikinya. Mampu menepis kepentingan pribadi. Ali yang hendak berbuka puasa, kemudian terdengar ada ketukan pintu seraya memberikan salam kepada Ali, iapun segera membuka pintu dan menjawab salam tamunya.
"Wahai saudaraku Ali, aku sedang membutuhkan makanan apakah engkau punya untuk aku makan segera?", Ali mengambil makanan yang hendak disantap bersama keluarganya dan diberikan kepada orang tersebut. Padahal Ali dan keluarganya ketika itu sedang butuh. Singkatnya dalam kisah itu Ali pun tidak menduga rasul datang membawa makanan. Begitulah jalan Allah memudahkan bagi hamba yang senang berbagi kebahagiaan.
PENUTUP
Berbagi menolong dan memberi menghasilkan kebahagiaan batin dalam pribadi muslim. Kebalikannya dengan sikap pelit atau tidak mau berbagi menghasilkan karakter manusia yang serakah dan tamak. Ingat kebahagiaan atau nikmat yang Allah amanahkan kepada kita ada milik yang harus di keluarkan untuk saudara-saudara yang sedang membutuhkannya. Dan Allah akan terus tambah nikmat itu jika kita suka membantu dan memberi. Fasta Biqul Khairat. (Rel-Or)
• Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam UMSU.
